Rabu, 11 Juni 2014

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Gagasan yang Menuju Tindakan

Posted on May 8, 2013 by YasminHospital in Artikel
Karakter Anak usia dini (0-6 th) adalah unik. Mereka aktif, spontan, ceria, dan penuh rasa ingin tahu. Smua stimulus akan direspon pada usia ini, semua informasi akan diserap dan mereka akan menangkap apa saja yang ada disekitarnya. Anak-anak aktif dan belajar melalui semua inderanya.
Anak usia dini kita ibaratkan seperti spons yang menyerap smua yang ada di sekelilingnya dan semua yang diserap itu akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kepribadiannya kelak.
Pendidikan karakter pada usia dini merupakan proses belajar tentang segala aspek dan komponen yang dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang matang dan paripurna, dimana orang tua, guru, lingkungan dan masyarakat berperan sebagai pilar utamanya. pada usia ini anak sangat membutuhkan keteladanan, bukan hanya sekedar nasehat atau norma tertulis.
Imitasi adalah proses meniru atau mencontoh, dimana pada pada anak usia dini proses inilah yang pertama dilakukannya dalam memenuhi rasa ingin tahu dan merespon stimulasi lingkungan. Anak akan meniru smua yang dia lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan.
proses belajar pada anak
Identifikasi adalah proses selanjutnya ketika imitasi diberi penguatan berupa reward and punisment serta dilengkapi dengan deskripsi yang baik. Anak akan belajar mengenali semua prilaku yang ditirunya dan mulai bisa membedakan mana prilaku yang dapat diterima dan memberi dampak positif serta mana prilaku yang tidak bisa diterima dan memberi dampak negatif.

Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini

REP | 05 January 2014 | 01:11 Dibaca: 146   Komentar: 0   0
By : Andre Soewito Pada era globalisasi seperti sat ini setiap manusia dituntut untuk bisa berdikari dengan cara masing-masing. Mereka mempunyai cara sendiri untuk bergerilya menjalankan setiap visi dan misi nya agar bisa membidik kejayaan pada kehidupan di masa depan. Visi dan misi setiap pribadi pun akan juga jelas berbeda, hal ini disebabkan setiap karakter yang dimiliki setiap pribadi tidaklah sama. Nah, karakter inilah yang sekarang mulai banyak di sosialisasikan oleh pemerintah melalui lembaga pendidikan yang ada di seluruh penjuru bumi Indonesia terutama di kampus-kampus yang berbasis dunia pendidikan. Pernahkah anda mendengar Pendidikan Karakter pada usia dini? Nah inilah yang sekarang ini sedang menjadi trend dan menjadi pembahasan pokok para pemerhati pendidikan Indonesia. Melalui riset dari berbagai profesional yang berkompeten dibidangnya, akhirnya terciptalah sebuah metode baru yang disebut Pendidikan Karakter Usia Dini. Pada masa-masa usia 0 hingga 6 tahun, otak anak berkembang sangat pesat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Memahami 3 Karakter Anak


Tiap anak punya karakter dan temperamen berbeda. Ada tiga tipe yang paling sering bisa dijumpai: Penakut/pemalu, tukang rewel/aktif/cerewet, dan si manis yang mudah diatur.

Seperti apa ciri-ciri mereka dan bagaimana cara terbaik menghadapi mereka? Anak Anda termasuk yang mana?

1. Si penakut/pemalu. Ketika Anda membawa si kecil yang penakut bertemu dengan orang lain, jangan harap ia bisa langsung bergabung. Tak mudah baginya untuk langsung bergabung dalam suatu aktivitas kelompok. Anda harus sering-sering membawa dia ke tempat tersebut, sampai ia merasa nyaman bermain di sana. Setelah ia terlihat nyaman dan bisa berbaur dengan anak-anak lain, Anda bisa pelan-pelan meninggalkannya.

2. Tukang rewel/aktif/ceriwis. Menghadapi anak seperti ini, Anda perlu ekstra sabar. Sikap kalem menghadapinya akan sangat membantu. Menurut Alice Sterling Honig, Ph.D., penulis Secure Relationships: Nurturing Infant-Toddler Attachments in Early Care Settings, anak-anak yang suka rewel, moody, atau gampang ngambek punya perasaan dan respon yang lebih peka dibanding anak lain.

Mengenal 4 Karakter Anak Usia Dini (Menurut Florens)

Pentingnya Mengenal 4 Karakter Dasar Manusia (Menurut Florence Litteur's Personality Plus) Dalam Mendidik Anak

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Sifat-sifat tersebut adalah sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris. Mengapa kita perlu memahami 4 karakter dasar manusia tersebut dalam mendidik anak?

Seorang anak masih mudah ditebak, tanpa perlu menggunakan tes, untuk bisa mengetahui kepribadian dasar mereka. Sebagai orangtua, kita perlu mengetahui kepribadian dasar buah hati kita. Hal ini akan sangat berguna. Manfaat tersebut antara lain:

1. Tahu bagaimana memperlakukan mereka.
Misalnya kita memiliki anak yang sanguinis, dimana ciri-ciri dasar mereka adalah suka berbicara dan sangat ekspresif. Beberapa orang tua merasa khawatir, saat mengetahui buah hatinya sangat cerewet. Jangan sampai kita membanding-bandingkan dengan orang lain, biasanya saudara kandungnya, yang cenderung pendiam, dengan mengatakan,”Kamu bisa nggak seperti kakakmu, pendiam, dan nggak suka bikin keributan.” Atau dengan banyak melarang anak yang sanguinis untuk bicara. Jangan sampai larangan-larangan kita melukai buah hati kita, dan harus menjadi “orang lain”. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan kedewasaan sang anak. Akan lebih baik bila kita mengarahkan “kekurangan” sang anak tersebut menjadi sebuah kelebihan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta demi kebaikan masa depan sang anak. Misalnya, dengan mengajarkan mereka kata-kata yang baik, mengajari mereka menasihati, menghindarkan mereka dari kata-kata yang kasar (yang bisa menyakiti orang lain), mengajari mereka untuk berbicara dengan lembut (tidak dengan membentak), sehingga nantinya saat mereka dewasa, mereka menjadi anak yang baik dalam bertutur kata dan bertindak.

Tipe Karakter Anak

 
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Gaya anak saat menggunakan kloset, menunjukkan karakternya. Kesabaran dan kemampuan orang tua untuk menganalisa, sangat dibutuhkan untuk mengetahui tipe apakah balita Anda, dilihat dari perilakunya saat belajar menggunakan kloset untuk buang air besar. Berikut ini ada 6 tipe klasik yang mudah dikenali dari tindak tanduk anak saat belajar buang hajat dan bagaimana Anda bisa membantunya agar ia dapat segera menguasainya:

Si pendidik atau pakar keuangan. Anak bisa dengan anteng duduk hingga 15 menit di atas kloset. Namun bukan karena lama buang air besar, dia malah asyik bermain atau  melakukan hal lain yang menurutnya lebih seru seperti menyanyi. Bahkan permintaan Anda untuk selesai mandi dianggapnya angin lalu. Ketidakpatuhannya ini juga bisa membuat Anda cemas, karena ia seperti anak yang terlambat dalam fase tumbuh kembangnya. Memakaikan dia popok sekali pakai karena terlalu lelet di toilet hanya akan memperburuk keadaan. Bisa-bisa anak belum bebas popok saat ia duduk di taman kanak-kanak. Karakter: meski sekarang terlihat lambat, dia diprediksi akan menjadi akuntan atau   menekuni bidang  keuangan, karena kemampuannya  duduk berjam-jam. Dia juga bisa menjadi dosen atau guru karena kesabaran dan kegigihannya dalam mengajar.  Bravo!

Peran Ibu Dalam Mendidik Dan Membangun Karakter Anak

Banner Blog Competition Nutrisi Untuk Bangsa

Saat kecil, aku sering mendengar pepatah yang sering diucapkan oleh orangtua kepada pasangan yang masih muda. Dalam bahasa Indonesia, pepatah tersebut bunyinya kurang lebih seperti ini : Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Pepatah ini seakan memberikan isyarat bahwa perilaku orang tua pasti akan menurun pada anaknya. Kenapa demikian? Karena menurut saya pribadi, sejak dari dalam kandungan sampai lahir, lingkungan pertama yang ditemui sang anak adalah keluarga. Dari keluarga karakter anak mulai terbentuk serta mulai belajar. Semuanya tergantung bagaimana cara orang tua mendidik dan membentuk karakter anak dan tentunya dengan tujuan agar menjadi lebih baik.

Sebagai orang tua, pasti semua berharap dan menginginkan anak kita nantinya cerdas, berprestasi dan berakhlak mulia. Bisa jadi ada di antara pembaca baik orang tua maupun anak-anak yang sudah beranjak dewasa, iri melihat anak tetangga ataupun orang lain juara dalam lomba, berprestasi dibidang yang ditekuni, bahkan sampai-sampai tampil secara live di televisi. Sedangkan kita sendiri ataupun anak kita prestasinya biasa-biasa saja dan tidak terkenal pula.

Sifat Karakter Anak Sulung Tengah Bungsu dan Tunggal

Karakter Anak Sulung / Pertama, Tengah, Bungsu, dan Tunggal. Pemaparan ini adalah sesuai pengalaman dan pengamatan pribadi. Dasarnya adalah sifat karakter manusia adalah dinamis sangat bisa berubah. tergantung dari faktor pengalaman, event penting dalam hidup manusia seperti menikah, kematian orang tua, tinggi badan, tingkat pendidikan, dll 

A. Anak Tunggal

Sifat : Ciri khas anak tunggal suka menggantungkan cita-cita yang tinggi dan sangat idealistic. Anak Tunggal memiliki kadar idealistic yang super tinggi (tertinggi diantara anak yang lain dalam hal jodoh, dan pekerjaan). Anak tunggal juga sangat suka bepergian, berekreasi atapun berpetualang. Anak Tunggal memiliki kesamaan dengan anak pertama yakni tidak suka berbuat ulah (cinta akan perdamaian). Sifat lain anak tunggal adalah tak terduga-duga dalam arti yang luas dan punya potensi tinggi untuk selingkuh dari yang saya amati mungkin hal ini disebabkan ia anak satu-satunya sehingga kepengentahuannya thd lawan jenis sangat tinggi. Kecenderungan si Anak Tunggal lebih suka kepada lawan jenis yang berwajah dan bersikap dewasa.
 

Selera Jodoh: Anak tunggal menurut penelitian Psikolog agak kurang cocok dengan anak tengah, akan banyak konflik terjadi karena banyak perbedaan. Menurut pengamatan dan penelitian saya, anak tunggal kurang suka dengan tipe yang pecicilan (biasanya bungsu) dia lebih suka yang bersikap dewasa dan serius seperti anak Pertama (umumnya).

Contoh tokoh : Sheila Marcia, Cinta Laura, Kirana Larasati, Dian Sastro, SBY, Alexandra Gottardo.